KUNSTKRING – Restoran Yang Memadukan Culture dan Historis

Halo EATers, senang banget kali ini aku bisa kembali buat berbagi cerita mengenai pengalaman yang luar biasa kemarin. Jadi kemarin aku mampir kesalah satu gedung yang sangat bersejarah di Jakarta yang sangat menawan, indah dan tentunya historical. Ketika aku mampir ketempat ini tentunya tidak hanya mampir loh disini aku juga mencoba beberapa menu yang tersedia dan tentunya merupakan sebuah pengalaman yang sangat berkesan ketika mampir kesini. Bangunan dari restoran yang kali ini aku hampiri sudah lebih dari 1 abad dan masih berdiri kokoh nan megah, yuk simak pengalamanku selengkapnya.

Jadi EATers, kali ini aku mengunjungi salah satu restoran yang pada mulanya merupakan Nederlandsch-Indische Kunstkring of the Dutch East Indies Fine Arts Circle of the Dutch East Indies) atau bisa dikatakan sebagai suatu galeri seni pada zaman Belanda dahulu. Pertama kali organisasi tersebut terbentuk pada tahun 1902 dan bangunan ini sendiri diresmikan secara resmi pada tanggal 17 April 1914 di Batavia (sebutan Jakarta pada zaman penjajahan) oleh Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda yang bernama Frederick Idenburg. 

Tampak Depan KUNSTKRING
Tampak Depan KUNSTKRING

Gedung Kunstkring yang merupakan sebuah hasil karya arsitek kelahiran Kloetinge, Belanda ini pada mulanya digunakan sebagai pusat kesenian bagi kelompok seniman dan budayawan Hindia Belanda ini sendiri pernah digunakan tidak hanya untuk pameran karya tetapi juga merupakan tempat pagelaran musik, kuliah seni, kelas melukis hingga perpustakaan seni sejak tahun 1914 hingga tahun 1942 an.

Mengapa tempat ini aku katakan memiliki nilai historis sekali EATers, karena tentunya gedung ini sangat memiliki perjalanan panjang dari awal terbangun dan diresmikan hingga sampai saat ini sebagai sebuah restoran yang bernama Kunstkring. Bangunan ini sendiri bisa aku katakan memiliki nilai sejarah bahkan saksi bisu dari perjalanan bangsa Indonesia dari masa penjajahan hingga kemerdekaan (saat ini).

Gedung yang terletak dijalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat ini sendiri pada awalnya memang terbentuk untuk segala pusat yang berhubungan dengan kesenian dizaman Hindia Belanda tetapi perjalanannya waktu pada tahun 1950 hingga 1993 gedung ini sendiri pernah digunakan sebagai gedung pusat yang berhubungan dengan keimigrasian, ini masih bisa terlihat loh EATers ketika kamu menatap lantai kedua dari gedung ini terdapat tulisan “Immigrassienst – Djawan – Immigrasi”.¬†Bukan hanya itu EATers, gedung Kunstkring ini sendiri ternyata juga pernah mengalami masa kelam karena pernah terbengkalai dan menjadi sasaran penjarahan hingga pada akhirnya gedung ini sendiri pun dipugar dan dialihfungsikan sebagai restoran dan galeri seni pada tahun 2013.

Masuk kedalam ruang Diponegoro
Ruang Diponegoro
Ruang Diponegoro
Ruang Diponegoro

Setelah memasuki pintu masuk dari restoran Kunstkring ini EATers kamu akan melihat sebuah gapura megah yang ternyata juga memiliki nilai historis EATers karena merupakan pemberian dari salah satu kerajaan dipulau Jawa. Setelah melewati gapura indah itu kamu akan melihat sebuah lukisan yang terbentang dipusat ruangan ini yang berukuran 9×4 meter yang memiliki nilai seni yaitu¬†The Fall of Java,¬†lukisan ini memiliki cerita mengenai pengangkapan Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830 dirumah residen Magelang karena tipuan salah satu jenderal Belanda bernama Jenderal De Kock.

Seperti yang aku katakan tadi gedung ini memiliki banyak sekali nilai sejarah bahkan hampir disetiap ruangannya memiliki kisahnya masing-masing ini terlihat dari cerita terciptanya lukisan megah ini EATers dimana lukisan ini merupakan lukisan ketiga didunia yang menggambarkan salah satu peristiwa sejarah yang memiliki nilai historis dan ikonik. Lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro ini sendiri EATers hanya pernah dilukiskan oleh Raden Saleh dan J.W. Pieneman dan ruangan ini memang khusus didedikasikan untuk salah satu pahlawan bangsa, Pangeran Diponegoro.

Ruangan Diponegoro di Kunstkring ini sendiri menurutku EATers sangat indah dan megah, pada ruangan ini tersusun meja-meja disisi kiri dan kanan ruangan dan meja panjang yang bisa digunakan untuk makan bersama keluarga besar, apabila kamu ingin lebih intim lagi tenang EATers di Kunstkring masih banyak ruangan yang sangat private dan bisa kamu gunakan ketika ingin bersantap bersama dengan keluarga, kolega bahkan sahabatmu.

Ditembok-temboknya (pada sisi kanan dari pintu masuk) pada ruangan Diponegoro ini juga terdapat lukisan-lukisan yang berumur sangat panjang dengan nilai seni yang sangat luar biasa loh dan terdapat lemari kaca yang bisa kamu lihat yang menyimpan berbagai benda-benda bersejarah yang sangat berumur. Oleh karena itu sengaja disimpan kedalam lemari kaca agar benda bersejarah tersebut lebih terjaga karena faktor usia yang sangat panjang.

Ruang Suzie Wong 
Ruang Suzie Wong
Ruang Suzie Wong
Ruang Suzie Wong

Ketika aku mampir kerestoran Kunstkring ini sendiri EATers aku tidak hanya menghampiri ruangan Diponegoro loh EATers tetapi masih banyak lagi. Rasa penasaranku semakin bertambah ketika mengetahui sejarah hingga mengamati keindahan seni dan nilai budaya yang terpampang nyata dan indah dihadapanku. Kemudian aku melanjutkan berkeliling direstoran Kunstkring ini menuju sebuah ruangan bernuansa Hong Kong – China berwarna dominan merah khas Tiongkok.

Pada ruangan inin terdapat lukisan perempuan dengan menggunakan pakaian berdominasi warna putih yang merupakan sosok bernama Suzie Wong. Tentunya aku sendiri tidak tau mengenai siapakah itu Suzie Wong? dan setelah aku diceritakan mengenai story dari ruangan ini sendiri yang memang terinspirasi dari sebuah film berjudul The World of Suzie Wong yang terbit pada tahun 1960. Ruangan Suzie Wong ini sendiri merupakan bar area dari Kunstkring EATers, terdapat sofa yang dapat juga loh kamu gunakan buat nongkrong buat meeting atau ngobrol santai bersama dengan keluarga, kolega ataupun orang terdekatmu dan juga merupakan smoking room.

Selain bar diruangan ini kamu juga bisa kamu gunakan untuk menyantap menu-menu makanan pilihanmu loh karena memang terdapat meja makan yang tentunya juga bernuansa chinese kental. Jadi kamu bisa pilih sendiri EATers mau menggunakan ruangan yang mana kalau menurutku disini EATers, diruangan ini kamu bisa menikmati dinner romantis bersama orang kesayanganmu dengan nuansa chinese kental tahun 1950an.

Ruangan Rijstafel 

Setelah puas berkeliling diruangan sebelumnya dan mengetahui cerita atau alasan dekorasi dan nilai sejarah ruangan Suzie Wong. Aku melanjutkan berkeliling menuju ruangan selanjutnya, ruangan ini menurutku lebih private dibandingkan ruangan sebelumnya. Dari penataan mejanya terlihat bahwa ruangan Rijstafel ini bisa diisi oleh 6 hingga 8 orang dengan meja bundar yang disalah satu sisinya terdapat lukisan yang memiliki cerita yang berhubungan dengan namanya yaitu Rijstafel.

Rijstafel sendiri yang dalam bahasa Belanda rèisttafel adalah sebuah proses penyajian pada masa penjajahan Hindia Belanda dengan menyajikan hidangan secara berurutan, diawali oleh hidangan pembuka, makanan utama hingga makanan penutup. Proses Rijstafel sendiri pada zaman Hindia Belanda dahulu digunakan oleh londo-londo tajir hingga penguasa untuk menikmati berbagai hidangan dalam satu kesempatan dan juga sebagai ajang untuk memamerkan kekayaan, kemakmuran koloninya hingga membuat rasa terkesan para tamu undangan.

Seperti namanya Rijstafel, proses penyajian hidangan seperti ini juga masih bisa kamu nikmati sendiri loh di Kunstkring ini EATers tetapi harus dengan booking sebelumnya. Jadi aku saranin buat kamu yang ingin merasakan penyajian menu hidangan favoritmu dengan proses Rijstafel sebaiknya dengan konfirmasi atau booking terlebih dahulu. Kemarin sayangnya aku belum sempat menikmati proses penyajian ini tetapi nanti ketika aku balik lagi tentunya aku ingin merasakan sendiri bagaimana sensasi prosesinya. Oh iya EATers, proses penyajian rijstafel ini sendiri ternyata bukan hanya bisa dilakukan diruangan ini loh tetapi juga bisa dipesan untuk ruangan lainnya.

Ruang Multatuli

Masih berada dilantai pertama pada bangunan restoran Kunstrking ini EATers, terdapat satu ruangan lagi yang bernama Ruang Multatuli. Pada awalnya aku tidak mengetahui mengapa ruangan ini dinamakan Multatuli, setelah mendapatkan informasi mengenai siapakah Multatuli tersebut, ternyata beliau merupakan Dowes Dekker. Beliau merupakan seorang penulis terkenal yang salah satu karyanya berjudul Max Havelaar. Buku tersebut menceritakan mengenai kekejaman pemerintah Hindia Belanda kepada penduduk.

Pada ruangan ini sendiri terdapat lukisan-lukisan yang sangat menceritakan atau menunjukan sosok Dowes Dekker itu sendiri EATers. Ruang Multatuli ini bisa kamu gunakan untuk 10 orang dan berukuran lebih besar daripada ruangan Rijstafel tadi.

Ruang Soekarno

Masih berkeliling mengamati ruangan demi ruangan yang terdapat di Kunstkring ini EATers, akhirnya aku melanjutkan berkeliling menuju lantai kedua dari restoran ini. Ketika memasuki ruangan ini sudah tampak jelas terlihat sosok proklamator negara kita yaitu presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Setiap sudut ruangan dihiasi dengan lukisan-lukisan sang proklamator dengan nuansa klasik yang mempesona. Disalah satu sisi terdapat pajangan hasil pemberian dari presiden perempuan pertama Indonesia loh EATers, Ibu Megawati yang merupakan anak dari presiden Soekarno. Setelah mengetahui informasi ruangan Soekarno ini EATers ternyata ruang Soekarno ini merupakan salah satu ruangan yang paling sering digunakan untuk orang-orang penting dinegara ini loh bahkan orang-orang penting dari berbagai negara.

Dilantai kedua ini juga masih terdapat beberapa ruangan lainnya yang bersetting sangat menarik dan memiliki cerita masing-masing. Ditengahnya terdapat suatu hall yang besar dan terdapat pajangan-pajangan lukisan dan memang benar ternyata setelah aku dapatkan informasinya merupakan hall yang sering digunakan untuk pameran seni bahkan bisa digunakan juga loh EATers untuk acara-acara khusus tertentu. Wahh ternyata bukan cuma itu EATers, dilantai kedua ini sendiri terdapat outdoor yang disebut sebagai Balkon van Menteng. Balkon ini menghadap taman tepat kearah kolam disalah satu sisi bangunan ini.

Tentunya setelah berkeliling dan mengetahui cerita demi cerita serta sejarah dari bangunan ini perutku sudah mulai keroncongan. Ini pertanda bahwa udah minta di isi lagi nih perut hehehe. Pas juga karena selain ingin mengetahui cerita dibalik restoran Kunstkring ini sendiri tentunya aku ingin mengetahui rasa makanan yang disediakan disini. Apakah hanya ruangannya sajakah yang menarik atau apakah rasa makanannya juga menarik dan enak seperti konsepnya?. Akhirnya sekarang waktuku sendiri buat menikmatinya. Ketika aku mampir ke Kunstkring ini EATers, terdapat beberapa menu yang aku cobain, berikut diantaranya :

Nonja Popiah 

Ini dia EATers menu pertama yang aku cobain ketika mampir ke Kunstkring, ini merupakan salah satu menu appetizer yang tersedia disini. Nonja Popiah ini menurutku seperti lumpia yang dibentuk bulat yang diisi oleh olahan daging ayam dan udang. Ketika aku mulai menikmati menu pembuka ini, teksturnya krispi dan tidak keras serta diisi filling yang rasanya flavorful. Bisa dikatakan ini menu pembuka yang ciamik.

Sayor Rame-Rame

Kemudian aku melanjutkan menikmati menu kedua yang bernama sayor rame-rame, dari tampilannya sekilas seperti sayor masak santan. Tetapi ketika aku menikmatinya, menurutku menu ini tidak hanya terdiri dari 1 jenis sayuran, aku merasakan salah satu sayuran yang terdapat pada menu ini merupakan sayur singkong. Jadi nih EATers aku sendiri tidak suka makan sayur singkong karena keras dan menurutku tidak enak ketika disantap dengan kuah santan. Tetapi menurutku sayor rame-rame disini bisa membuat sayuran singkong yang aku paling benci menjadi salah satu sayuran yang cukup aku sukai.

Rasa kuah santannya juga pas, tidak terlalu berlebihan dan tidak kurang. Selain itu pada menu sayor rame-rame ini terdapat juga potongan kentang yang diatasnya terdapat udang kering. Ini sih salah satu menu paling favorit ketika aku mampir kesini EATers.

Chicken in Red Wine and Brandy Reduction

Menu selanjutnya nih EATers yang aku cobain pas mampir ke Kunstkring kemarin yaitu Red Wine dan Brandy yang diolah dengan daging ayam. Menu ini sendiri disajikan dengan potongan beef bacon, jamur champignon, baby potato, baby carrot yang diatasnya terdapat keju Gruyere. Rasa olahan ayam dengan wine dan brandynya menurutku itu tidak terlalu berlebihan dimana aku masih bisa menikmati daging ayamnya yang empuk dengan keju Swiss ini.

Stoom Visch Van Kunstkring

Sekilas terlihat menu ini seperti pepes, salah satu menu khas Indonesia yang tentunya sudah tidak asing lagi ditelinga. Menu ini sendiri merupakan olahan ikan yang disteamed yang dipadukan dengan salte egg, rasanya menurutku juga mengejutkan. Pada awalnya aku menikmati menu ini terasa bumbunya tidak rich dan datar tetapi setelah aku mengaduknya sampai kedalam ternyata rasanya enak banget. Bumbunya rich banget dan telor asinnya sendiri masih bisa dirasakan tetapi tidak membuat enek.

Cendol Pannacotta
Selendang Mayang
Chocolate Lava Cake

Tentunya setelah menikmati hidangan utama aku masih belum puas dan masih ingin menikmati bagaimana ya kira-kira rasa dari dessert menu yang dimiliki oleh Kunstkring ini EATers. Jadi kemarin aku mencoba beberapa menu dessert yang terdapat direstoran ini, untuk tampilannya menurutku dari beberapa dessert diatas ada 2 menu yang paling menarik perhatianku yaitu Cendol Pannacotta dan Selendang Mayang.

Pada umumnya cendol dijadikan sebagai sebuah minuman yang ditemani dengan gula merah dan santan saja tetapi untuk menu cendol disini dipadukan dengan pannacota EATers. Pada menu ini juga masih bisa kamu rasakan santan, gula merah loh EATers yang dipadukan dengan puding lembut ala Italia ini. Aroma daun suji dari cendolnya juga tercium dengan wangi juga.

Ini dia nih EATers yang paling membuatku makin penasaran yaitu pada menu dessert Es Selendang Mayang di Kunstkring ini, dimana pada umumnya selendang mayang didominasi oleh warna merah tetapi kok disini warnanya hijau semua?! itu membuatku semakin penasaran mengenai rasa dari selendang mayang yang ada disini. Sebelum aku mencobanya aku bisa mencium aroma daun suji yang sangat wangi sekali.

Tesktur es Selendang Mayang disini sangat kenyal dan wangi berbeda dengan es selendang mayang yang biasanya aku nikmati sebelum-sebelumnya. Menurutku keunikannya terdapat pada rasa dari es ini yang manis, gurih dan teksturnya lebih empuk dari biasanya. Ini dessert paling favoritku disini loh EATers.

Aku di Kunstkring 

Tentunya sebagai orang Indonesia ketika ingin menyantap makan pagi, makan siang bahkan makan malam pada umumnya selalu diisi dengan yang namanya nasi. Kemarin aku menikmati nasi merah yang tersedia di Kunstkring ini EATers. Dikemas dengan unik dan aroma daun pisangnya membuat nasinya juga semakin menggugah selera.

Outdoor lantai Pertama dekat Galeri
Galeri Kunstkring

Tidak hanya outdoor terletak dilantai kedua saja EATers tepatnya dibalkon, tetapi sebelum kamu memasuki area galeri dari dalam ruangan Diponegoro kamu bisa melihat deretan meja panjang megah yang bisa diisi sekitar 20 orang bersamaan yang ketika siang hari bisa kamu temukan sinar matahari terang menyinari meja makan tersebut. Setelah melewati area meja tersebut kamu bisa melewati area galeri seni Kunstkring dimana disini terdapat berbagai koleksi seni dari pecah belah, lukisan, patung, kain dan lain sebagainya yang bisa kamu koleksi atau beli untuk koleksi dirumah sendiri.

Pengalaman mampir ke Kunstkring merupakan salah satu pengalaman yang menurutku sangatlah berkesan. Karena disini aku tidak hanya bisa menikmati sajian menu perpaduan antara barat dan asia yang dikemas secara apik tetapi aku juga bisa menikmati suasana indah, megah dan mewah yang memiliki nilai budaya Indonesia sekali. Selain itu di Kunstkring kamu juga bisa menikmati berbagai cocktail, mocktail hingga wine loh, mungkin kamu pecinta wine ketika aku melihat tempat penyimpanan mereka koleksinya cukup banyak dan menarik loh.

Mungkin tersirat dibenakmu mengenai restoran ini secara sekilas bahwa Kunstkring pasti mahal nih, dari pengalamanku mampir kesini untuk menyantap beberapa menu yang ada dari range harganya sih masih masuk akal dan masih terjangkau EATers. Aku secara pribadi sih menyarankan kamu untuk mampir kerestoran ini karena tentunya disini kamu bisa menikmati menu-menu yang ada sambil merasakan sensasi makan dengan nuansa budaya yang kental. Sekian untuk sharing pengalamanku kali ini dan sampai berjumpa dicerita selanjutnya.


Location :

Kunstkring

JL. Teuku Umar No.1 RT.01/RW.01

Menteng, Jakarta Pusat

Phone : +62 21 390 0899

Email : kunstkring@tuguhotels.com

Opening Hours : 

MON – SUN : 11.00 AM – 00.00 MID-NIGHT

Social Media ;

Instagram : https://www.instagram.com/kunstkring/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s