Pertama kali menginjakan kaki ditanah Sumba (Part I – Sumba Barat Daya) 

Halo EATers akhirnya trip aku ke Sumba telah usai, sedih sih rasanya dan masih kangen dengan suasana yang ada disana. Udara yang bersih dan jauh dari polusi serta pemandangan yang asri nan menawan sampai saat ini masih terbayang diotak aku. Makanya nih aku sih nanti bakal balik lagi ke Tanah Sumba soalnya masih pengen explore disana lagi. Karena dibatasi oleh waktu aku seakan belum sempat juga nih untuk menyatu dengan warga sekitar yang ada disana, tetapi sebentar saja aku berada disana aku bisa merasakan kehangatan dari mereka. Jujur aku sangat kagum sekali dengan mereka, simak yuk ceritaku selengkapnya! .

Perjalananku ke Tanah Sumba itu cukup panjang dan lumayan melelahkan, tentu saja dikarenakan tidak ada pesawat yang melayani penerbangan langsung disana. Dikarenakan bandar udara yang tersedia disana belum bisa menampung pesawat yang berbadan besar serta teknologi yang ada dibandar udaranya juga tidak secanggih yang ada dikota besar seperti Jakarta ataupun kota-kota lainnya. Pada umumnya penerbangan menuju Sumba ditempuh melalui penerbangan transit dari Bali atau sekitarnya yang berangkat kesumba menggunakan pesawat berbadan kecil (ATR).

Penerbanganku kemarin aku tempuh dari Jakarta ke Bali, kemudian aku menginap sehari di Bali dengan tujuan untuk menikmati suasana di Bali sebentar (maklum namanya juga Food Blogger jadi ke Bali cari kafe atau tempat makan dulu 😬) keesokan harinya baru aku lanjutkan penerbangan dari Bali menuju Sumba yaitu di kota Tambolaka yang terletak didaerah Sumba Barat Daya. Tentu untuk trip ke Sumba ini aku tidak sendirian karena aku mengikuti open trip oleh teman aku yang juga adalah seorang travel blogger.

Pesawatku berangkat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai – Bali dan mendarat di Bandara Waikabubak (Tambolaka Airport). Perjalanan dari Bali ke Waikabubak ini ditempuh dengan waktu 1 jam dan 25 menit, aku terbang dari Bali pukul 10.20 WITA dan tiba di Tambolaka pada waktu 11.45 WITA, untuk waktu Bali dan Sumba tidak ada perbedaan kok EATers. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya bahwa pesawat yang digunakan dari Bali ke Tambolaka ini adalah ATR jadi pesawatnya itu kecil dan kemarin aku menggunakan maskapai penerbangan Wings Air sehingga hanya mendapatkan jatah bagasi sebesar 10KG. Jadi aku putuskan untuk tidak membawa koper dorong melainkan koper tenteng yang aku yakini dapat muat dibagasi kabin.

Faktor lain yang membuat aku tidak ingin membawa koper ataupun menaruh bagasi adalah katanya sih banyak yang bawa bagasi dan barangnya ketinggalan di Bandara Bali, makanya nih karena aku nggak mau mengambil resiko akhirnya aku memutuskan untuk membawa koper tenteng saja. EATers ada hal menarik yang membuat aku sedikit ngakak, ketika menunggu diruang tunggu di Bandara di Bali kan pintu keberangkatan pesawat itu dipindah di gate yang berbeda dengan yang tertera di tiket tetapi tidak ada pemberitahuan untuk naik pesawat (mungkin aku nggak denger kali ya) terus sampai final call sampai disebutin namaku untuk naik pesawat.

Pas naik pesawat udah rame banget dan aku bersama teman-teman sampai diliatin sama orang-orang yang dipesawat (sepertinya mereka kesal 😬 karena kita pesawatnya jadi delay hahaha). Suasana pesawat sudah rame banget dan bagasi kabin sampai penuh, akhirnya ada barang yang sampai dibantu simpenin sama si pramugari, untungnya barangku bisa muat diatas kabin. Setelah beberapa jam kemudian akhirnya telah sampai di Tambolaka dan kami langsung menuju kehotel untuk menaruh koper dan bagasi. Setelah menaruh bagasi dan makan siang aku dan teman-teman lainnya menuju kebeberapa tempat selama berada di Sumba Barat Daya ini, oh iya EATers sebelum namanya Sumba Barat Daya pada saat pemekaran kabupaten ini dulu sempat ingin dinamai Sumba Jaya, tetapi karena tidak disetujui oleh masyarakat dan mayoritas massa sehingga kabupaten ini dinamai kabupaten Sumba Barat Daya. Berikut adalah beberapa tempat yang aku kunjungi di Sumba Barat Daya :

Danau Weekuri 

DJI_0045.JPG
Danau Weekuri
Danau Weekuri
Aku di Danau Weekuri
Laut lepas seberang Danau Weekuri

Destinasi pertama yang aku tuju ketika tiba di Sumba Barat Daya ini adalah Danau Weekuri syukurlah cuaca sedang bagus dan tidak hujan sehingga aku bisa mendapatkan foto yang bagus disini. Tetapi yang membuat aku salah kostum hari ini adalah sandal, ketika aku memilih pakaian hari ini aku memilih menggunakan sandal dan ternyata ini suatu masalah buat aku karena di Danau Weekuri ini banyak sekali karang-karang terjal sehingga kaki aku banyak ketusuk dan sedikit lecet. Aku sarankan ketika kamu ingin mampir ke Danau Weekuri ini memilih untuk menggunakan sepatu hiking ataupun sandal gunung biar kaki kamu nggak lecet.

Disini banyak sekali anak-anak yang berenang dan menikmati keindahan danau ini, tepat diseberang danau ini merupakan karang-karang terjal kearah laut lepas. Hati-hati ya EATers jangan sampai lost control dan jangan biarkan anak-anak sendiri atau bermain-main dketika berada diarea yang dekat curam. Pemandangan didanau air asin ini sangatlah menawan, kalau aku sebut sih danau ini berwarna biru ke hijauan tosca. Katanya sih EATers Danau Weekuri ini saking memiliki kadar garam yang tinggi sehingga bisa membuat kamu atau siapapun yang berenang didalamnya itu mengapung (jadi keingat laut mati) .

Danau Weekuri ini sendiri EATers sudah dikenal luas oleh masyarakat sejak tahun 2010, perjalanan dari kota Tambolaka sekitar 30 menitan ke Danau yang terletak didaerah Kodi Utara ini. Ketika aku mau balik untuk menuju tempat selanjutnya nih, ada beberapa anak-anak yang meminta uang dengan alasan ingin membeli buku tulis ataupun peralatan sekolah. Dalam hati ini sih udah iba dan nggak tega tetapi setelah mendengar cerita dari tour guide aku untuk sebaiknya tidak memberikan uang kepada mereka jadi aku urungkan niat untuk memberi uang kepada mereka. Disarankan sih lebih baik untuk memberikan buku secara langsung maupun peralatan ataupun snack, jika ingin memberi uang lebih baik langsung kepada lembaga atau bagian yang dapat bertanggung jawab.

Desa Adat Ratenggaro

Aku di Desa Adat Ratenggaro
Ini nih aku bersama dengan teman-teman seperjalanan
DJI_0082.JPG
Bersama dengan beberapa warga di Desa Adat Ratenggaro
DJI_0085.JPG
Aliran air yang menuju ke laut

Destinasi kedua ketiga aku sedang berada di kabupaten Sumba Barat Daya ini adalah Desa Adat Ratenggaro EATers, sebelum menuju kesini aku dan teman-teman mampir dulu ke salah satu toko yang menjual kebutuhan sehari-hari atau nama kerennya convenience store ditoko ini aku dan teman-teman membeli beberapa snack atau camilan untuk dibagi-bagikan dengan masyarakat disana. Setelah usai membeli snack kami melanjutkan perjalanan menuju desa adat ini. Desa Adat Ratenggaro ini sendiri terletak diwilayah Desa Umbu Ngedo, Kodi Utara yang berjarak kurang lebih 40km dari kota Tambolaka sendiri.

Ketika kamu memasuki area Desa Adat Ratenggaro ini sendiri kamu diwajibkan untuk mengisi buku tamu dan aku sarankan tetap menjaga sopan santun ya EATers. Disini kamu akan meraskan kembali ke zaman megalithikum dimana terdapat kuburan batu tua disini. Ternyata EATers nama Ratenggaro ini sendiri memiliki suatu arti loh Rate artinya kuburan dan Garo yang berarti orang-orang Garo. Konon nih katanya disini dulu terjadi perang antar suku, suku dari orang yang sekarang menempati tempat ini adalah suku yang berhasil merebut wilayah orang-orang garo tersebut.

EATers yang membuat aku kagum sendiri dengan desa adat ini adalah rumah adatnya tentunya, yang bernama Uma Kelada yang memiliki ciri-ciri atap menjulang tinggi yang mencapai ukuran 15 meter. Katanya sih tinggi rendahnya atap rumah seseorang ditentukan oleh tinggi rendahnya status sosial mereka. Aku disana terkagum juga melihat anak-anak yang masih kecil aja udah bisa menunggang kuda dan sampai berdiri loh diatas kudanya. Kayaknya sih kalau aku begitu udah kebalik kali 😂.

Ada fakta menarik lagi nih untuk kamu EATers ketika aku pergi ketepi desa ini yang disana terdapat pantai yang menuju laut lepas, ternyata disana merupakan pertemuan antara saluran air sungai menuju ke laut lepas loh EATers. Btw hati-hati pada saat melangkah disini ya EATers banyak ranjau soalnya (ranjau = poop hewan). Kamu tau nggak sih EATers kalau pijakan yang kita injak ini bawahnya adalah kuburan loh EATers, sebelum kita naik keatas sini, kami meminta izin kepada masyarakat dulu apakah boleh untuk diinjak dan ternyata masyarakat disini mengatakan boleh, kecuali salah satu batu kuburan yang tidak boleh diinjak (mungkin ketua adat atau sosok yang dihormati disini).

Setelah beberapa saat menikmati keindahan desa ini, kami pun memutuskan untuk pamit ketempat selanjutnya untuk mengejar sunset. Padahal belom puas untuk mingle dengan warga sekitar 😬 tapi mau gimana lagi namanya juga dikejar waktu dan banyak sekali destinasi yang ingin kami kunjungi. Sebelum kami pamit dari Desa Adat Ratenggaro ini kami memberikan beberapa cemilan yang aku dan teman-teman beli sebelum menuju tempat ini kepada masyarakat sekitar dan langsung buzzzz meluncur ketempat dimana aku dan teman-teman akan melihat matahari terbenam di Sumba untuk pertama kalinya.

Pantai Bwana

Pantai Bwana

Setelah mampir ke Desa Adat Ratenggaro ini aku dan teman-teman langsung meluncur kearea Pantai Bwana ini, tetapi sepertinya sedikit terlambat untuk menikmati sunset disini kalau harus kepantainya dibawah. Akhirnya driver kami memilih spot yang baik untuk melihat sunset ini, sangat indah sekali bukan, sebenarnya aku ingin turun kesana tapi apalah daya waktu sudah tidak mendukung dan jika kami menuju kebawah haripun sudah gelap. Yang penting sudah bisa melihat indahnya sunset yang ada di Sumba ini untuk pertama kalinya ❤️ .

Rumah Makan LG Malole

SE’I (Babi Asap khas NTT)
Sate Babi

Sudah lelah untuk menikmati keindahan Sumba Barat Daya hari ini tentu perut udah mulai lapar dan perlu diisi lagi nih EATers tenanganya. Akhirnya setelah berembuk aku dan teman-teman memutuskan untuk mampir kesalah satu rumah makan yang katanya enak sekali masakan bebongnya 🐷, padahal aku nggak terlalu suka makan daging babi apalah daya suara mayoritas disini semua pada suka makan daging babi. Pas baca dimenu makanan disini terlihat biasa saja dan tentunya aku mencari menu makanan yang non pork.

Akhirnya setelah beberapa lama aku ngedit foto tentunya untuk diupload disosial media menu makanan yang kami pesan telah siap untuk disantap, tentu aku makan pesanan aku yang non pork namanya ikan bakar apa gitu yang rasanya cukup enak dan tidak amis. Ketika makananku habis dan mereka aku liat sangat lahap sekali dan mengatakan menu daging babinya enak banget dan juga aku digoda buat mencoba akhirnya aku mencoba sate babi disini dan ternyata sate babi disini enak sekali, gurih lezat banget. Teksturnya lembut dan nggak alot, untuk daging se’i disini aku nggak cobain EATers aku cuma cium aromanya saja. Aromanya wangi sekali sih, pengen coba tapi nggak suka makan babi (maklum aku pilih-pilih kalau makan babi, bukan karena haram loh ya).

Petualanganku di Sumba Barat Daya ini telah usai dan badanpun mulai remuk akhirnya aku dan teman-teman memutuskan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat karena keesokan hari harus menempuh perjalanan cukup panjang ke Sumba Timur (lanjut ke Sumba Part II – Sumba Timur) 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s